Dedi Mulyadi Ungkap Solusi Krisis Air dan Sampah di Jabar Akibat El Nino
Campernik.com – Mitigasi bencana kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino kini menjadi prioritas utama Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memetakan dua persoalan krusial yang membayangi wilayahnya selama musim kemarau panjang ini, yakni ancaman kelangkaan air bersih dan tata kelola sampah yang mulai overload.
Pernyataan tersebut disampaikan usai dirinya menghadiri Rapat Koordinasi Penanganan Persampahan dan Mitigasi Dampak Kemarau Panjang yang digelar di Mabes Angkatan Darat, Jakarta Pusat, Kamis (4/6/2026).
Menurut Dedi, efek domino dari El Nino Godzilla ini memerlukan penanganan yang cepat dan terintegrasi agar tidak mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat di berbagai daerah rawan.
Langkah-langkah Taktis Pemprov Jabar Atasi Krisis Air Bersih
Untuk mengantisipasi menyusutnya sumber air di pemukiman warga, Pemprov Jabar telah menyusun skema mitigasi yang komprehensif. Mantan Bupati Purwakarta tersebut menjelaskan ada tiga poin utama yang akan segera dieksekusi oleh pemerintah daerah.
“Maka, kami melakukan tiga hal. Yang pertama menyiapkan sarana dan prasarana air bersih dalam waktu cepat,” kata Dedi dikutip dari Instagram pribadinya pada Kamis (4/6/2026).
Sebagai langkah darurat untuk wilayah yang sudah terdampak kekeringan parah, armada pengangkut air akan dimobilisasi secara masif ke titik-titik kritis.
“Yang kedua, menyiapkan sarana transportasi untuk mengangkut jaringan air bersih menuju lokasi rawan,” katanya.
Bukan hanya solusi jangka pendek, pemerintah juga berencana memperluas infrastruktur perpipaan untuk menjamin pasokan air dalam jangka panjang, selama linimasa proyek masih memungkinkan untuk dikejar.
“Ketiga adalah menyambungkan jaringan air bersih ke wilayah tersebut apabila waktunya masih mencukupi,” lanjut Dedi.
Tantangan Overkapasitas TPA Sarimukti di Musim Kemarau
Selain ancaman kekeringan, isu lingkungan yang menjadi sorotan tajam Dedi Mulyadi adalah kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti. Fasilitas penampungan akhir yang terletak di Kabupaten Bandung Barat tersebut dilaporkan sudah melebihi kapasitas tampung optimalnya (overload).
Situasi ini kian mengkhawatirkan mengingat TPA Sarimukti menjadi tumpuan bagi empat wilayah besar di Bandung Raya, yaitu:
Kota Bandung
Kabupaten Bandung
Kota Cimahi
Kabupaten Bandung Barat
Dedi menegaskan bahwa penyelesaian masalah ini tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, melainkan butuh sinergi antardaerah.
“Yang kedua kita menghadapi tantangan sampah. Penumpukan sampah di Sarimukti yang meliputi tempat pembuangannya wilayah Cimahi, Kabupaten Bandung, Kota Bandung, dan Bandung Barat. Itu overload harus kita selesaikan secara bersama,” tuturnya.
Optimalisasi Pengelolaan Sampah Berbasis Komunitas
Guna mengurai benang kusut masalah ini, Pemprov Jabar akan menggalakkan program reduksi sampah langsung dari hulu. Polanya adalah dengan mengoptimalkan sistem pengolahan sampah mandiri berskala kecil di tingkat lingkungan terkecil.
“Yang kedua memasang jaringan pengelolaan sampah yang sederhana di tingkat desa dan kelurahan. Semoga langkah-langkah ini bisa bermanfaat,” pungkas Dedi.
Melalui kombinasi penyediaan air bersih dan pengelolaan sampah dari tingkat desa, diharapkan Jawa Barat mampu melewati fase kemarau ekstrem El Nino tahun ini dengan dampak minimal.

Tinggalkan Balasan